‘Asy’ariah

Salah satu perdebatan itu menurut a Subki adalah

Al Asy’ari : Bagaimana kedudukan orang mukmin, kafir dan anak keecil di akhirat?

Al Jubai : Yang mukmin mendapat tingkat yang baik dalam surga, yang kafir masuk neraka dan yang kecil terlepas dari bahaya neraka.

Al Asy’ari : Kalau anak kecil ingin memperoleh tempat yang lebih tinggi di Surga, mungkinkah itu?

Al Jubai : Tidak, yang mungkin mendapat tempat yang baik itu, karena kepatuhannya kepada Tuhan. Yang kecil belum mempunyai kepatuhan seperti itu.

Al Asy’ri : Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan, itu bukanlah salahku. Jika sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti yang dilakukan orang mukmin itu.

Al Ju bai : Allah akan menjawab, Aku tahu jika seandainya engkau terus hidup, engkau akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hukum. Maka untuk kepentinganmu Aku cabut nyawamu sebelum engkau sampai pada umur tanggung jawab.

Al asy’ari : Sekiranya yang kafir mengatakan, Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya. Apa sebabnya Engkau tidak jaga kepentinganku?

Kemudian diamlah al Jubai dan tidak dapat menjawab lagi

Asy`ariyah adalah sebuah paham aqidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-Asy`ariy. Beliau lahir di Bashrah tahun 260 Hijriyah bertepatan dengan tahun 935 Masehi. Beliau wafat di Bashrah pada tahun 324 H / 975-6 M.

Awalnya Al-Asy`ari pernah belajar kepada Al-Jubba`i, seorang tokoh dan guru dari kalangan Mu`tazilah. Sehingga untuk sementara waktu, Al-Asy`ariy menjadi penganut Mu`tazilah, sampai tahun 300 H. Namun setelah beliau mendalami paham Mu`tazilah hingga berusia 40 tahun, terjadilah debat panjang antara dia dan gurunya, Al-Jubba`i dalam berbagai masalah terutama masalah Kalam. Debat itu membuatnya tidak puas dengan konsep Mu`tazilah dan dua pun keluar dari paham itu kembali ke pemahanan Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Al-Asy`ariyah membuat sistem hujjah yang dibangun berdasarkan perpaduan antara dalil nash (naql) dan dalil logika (`aql). Dengan itu belaiu berhasil memukul telak hujjah para pendukung Mu`tazilah yang selama ini mengacak-acak eksistensi Ahlus Sunnah. Bisa dikatakan, sejak berdirinya aliran Asy`ariyah inilah Mu`tazilah berhasil dilemahkan dan dijauhkan dari kekuasaan. Setelah sebelumnya sangat berkuasa dan melakukan penindasan terhadap lawan-lawan debatnya termasuk di dalamnya Imam Ahmad bin Hanbal.

Kemampuan Asy`ariyah dalam memukul Mu`tazilah bisa dimaklumi karena sebelumnya Al-Asy`ariy pernah berguru kepada mereka. Beliau paham betul lika-liku logika Mu`tazilah dan dengan mudah menguasai titik-titik lemahnya.

Meski awalnya kalangan Ahlussunnah sempat menaruh curiga kepada beliau dan pahamnya, namun setelah keberhasilannya memukul Mu`tazilah dan komitmennya kepada aqidah ahlus sunnah wal jamaah.

Perbedaan dan persamaan model pemahaman / pemikiran antara Asy`ariyah dan Maturidiyah bisa kita break-down menjadi beberapa point :

  1. Tentang sifat Tuhan
  2. Pemikiran Asy`ariyah dan Maturidiyah memiliki pemahaman yang relatif sama. Bahwa Tuhan itu memiliki sifat-sifat tertentu. Tuhan Mengetahui dengan sifat Ilmu-Nya, bukan dengan zat-Nya. Begitu juga Tuhan itu berkuasa dengan sifat Qudrah-Nya, bukan dengan zat-Nya.
  3. Tentang Perbuatan Manusia.
  4. Pandangan Asy`ariyah berbeda dengan pandangan Maturidiyah. Menurut Maturidiyah, perbuatan manusia itu semata-mata diwujudkan oleh manusia itu sendiri. Dalam masalah ini, Maturidiyah lebih dekat dengan Mu`tazilah yang secara tegas mengatakan bahwa semua yang dikerjakan manusia itu semata-mata diwujdukan oleh manusia itu sendiri.
  5. Tentang Al-Quran
  6. Pandangan Asy`ariyah sama dengan pandangan Maturidiyah. Keduanya sama-sama mengatakan bahwa Al-quran itu adalah Kalam Allah Yang Qadim. Mereka berselisih paham dengan Mu`tazilah yang berpendapat bahwa Al-Quran itu makhluq.
  7. Tentang Kewajiban Tuhan
  8. Pandangan Asy`ariyah berbeda dengan pandangan Maturidiyah. Maturidiyah berpendapat bahwa Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu. Pendapat Maturidiyah ini sejalan dengan pendapat Mu`tazilah.
  9. Tentang Pelaku Dosa Besar
  10. Pandangan Asy`ariyah dan pandangan Maturidiyah sama-sama mengatakan bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar tidak menjadi kafir dan tidak gugur ke-Islamannya. Sedangkan Mu`tazilah mengatakan bahwa orang itu berada pada tempat diantara dua tempat “Manzilatun baina manzilatain”.
  11. Tentang Janji Tuhan
  12. Keduanya sepakat bahwa Tuhan akan melaksanakan janji-Nya. Seperti memberikan pahala kepada yang berbuat baik dan memberi siksa kepada yang berbuat jahat.
  13. Tetang Rupa Tuhan
  14. Keduanya sama-sama sependapat bahwa ayat-ayat Al-Quran yang mengandung informasi tentang bentuk-bentuk pisik jasmani Tuhan harus ditakwil dan diberi arti majaz dan tidak diartikan secara harfiyah.

kenyataannya mazhab aqidah Asy`ariyah ini memang mazhabyang paling banyak dipeluk umat Islam secara tradisional dan turun temurundi dunia Islam. Di dalamnya terdapat banyak ulama, fuqoha, imam dansebagainya. Meski bila masing-masing imam itu dikonfrontir satu persatu dengan detail pemikiran asy`ari, belum tentu semuanya sepakat 100 %. Bahkan sejarah mencatat bahwa hampir semua imam besar dan fuqoha dalam Islam adalah pemeluk mazhab aqidah al-As-`ari. Antara lain Al-Baqillani, Imam Haramain Al-Juwaini, Al-Ghazali, Al-Fakhrurrazi, Al-Baidhawi, Al-Amidi, Asy-Syahrastani, Al-Baghdadi, Ibnu Abdissalam, Ibnud Daqiq Al-`Id, Ibu Sayyidinnas, Al-Balqini, al-`Iraqi, An-Nawawi, Ar-Rafi`I, Ibnu Hajar Al-`Asqallani, As-Suyuti.

Sedangkan dari wilayah barat khilafat Islamiyah ada Ath-Tharthusi, Al-Maziri, Al-Baji, Ibnu Rusyd (aljad), Ibnul Arabi, Al-Qadhi `Iyyadh, Al-Qurthubi dan Asy-Syatibi.

Jangan lupa juga bahwa universitas Islam terkemuka di dunia dan legendaris menganut paham Al-Asy`ariah dan Maturidiyah seperti Al-Azhar di Mesir, Az-Zaitun di Tunis, Al-Qayruwan di Marokko, Deoban di India. Dan masih banyak lagi universitas dan madrasah yang menganutnya.

Para ulama pengikut mazhab Al-Hanafiyah adalah secara teologis umumnya adalah penganut paham Al-Maturidiyah. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi`iyyah secara teoligs umumnya adalah penganut paham Al-Asy`ariyah.

Historisitas Teologi Asy`ariyah dalam Biografi Abul Hasan al-Asy`ari

Sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa teologi Asy`ariah timbul sebagai penengah yang menjembatani antara kaum rasionalis-ekstremis dan kaum tekstualis-fatalis. Teologi Asy`ariah merupakan sebuah paham aqidah yang dinisbatkan kepada Abul Hasan Al-asy`ari. Nama lengkapnya Abdul-Hasan Ali bin Ismail Al-asy’ari, keturunan dari Abu Musa Al-asy’ary, yang dikenal dalam sejarah sebagai delegasi Ali bin Abi Thalib saat perundingan di Daumatu-l-Jandaal. Perundingan yang terjadi setelah perang Shiffin. Sebuah perundingan yang diyakini sebagi pemicu awal mula timbulnya sekte-sekte dalam Islam.

Al-asy’ari lahir tahun 260 H / 873 M dan wafat pada tahun 324 H / 935 M. Pada waktu kecilnya ia berguru pada seorang mu’tazilah terkenal, yaitu Abu Ali Al-Juba’i.

B. Perkembangan dan Tokoh Asy’ariyah

Pendirian Al-asy’ary di atas merupakan tali penghubung antara dua aliran alam fikiran Islam, yaitu aliran lama (textralis), dan aliran baru (rasionalis). Akan tetapi sesudah wafatnya aliran Asy’ariyah mengalami perubahan yang cepat. Kalau pada permulaan berdirinya kedudukannya hanya sebagai penghubung antara kedua aliran tersebut, maka pada akhirnya aliran Asy’aruyyah lebih condong kepada segi akal pikiran semata-mata dan memberinya tempat yang lebih luas daripada nash-nash itu sendiri. Mereka sudah berani mengeluarkan keputusan, bahwa “akal menjadi dasar naql (nash)” karena dengan akal kita dapat menetapkan adanya Tuhan, pencipta alam dan yang maha kuasa. Pembatalan akal fikiran dengan naql ( nash ) berarti pembatalan dasar ( pokok ) dengan cabangnya, yang berakibat pula pembatalan pokok dan cabangnya sama sekali.

Karena sikap tersebut, maka Ahlussunnah tidak dapat menerima golongan Asy’ariyyah, bahkan memusuhinya, sebab dianggap sesat ( bidah ). Kegiatan mereka sesudah adanya permusuhan ini menjadi berkurang, sehingga datang Nizamul-mulk ( wafat 458 H / 1092 M ), seorang mentri Saljuk, yang mendirikan dua sekolah terkenal dengan namanya yaitu, Nizamiyah di Nizabur dan Bagdad, dimana hanya aliran Asy’ariyyah saja yang boleh diajarkan. Sejak itu aliran Asy’ariyyah menjadi aliran resmi negara, dan golongan Asy’ariyyah menjadi golongan Ahli Sunnah.

tokoh-tokohnya sebagai berikut :

  • Al-Baqilany ( wafat 403 H / 1013 M )

Namanya Abu Bakkar Muhammad bin Tayyib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, Al-Asy’ary. Ia seorang yang cerdas otakya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama. Kitabnya yang terkenal adalah “at-Tahmid” (pendahuluan / persiapan).

  • Al-Juwaini ( 419-478 H/ 1028-1085 M )

Namanya Abu al-Ma’aly bin Abdillah, dilahirkan di Nisabur, kemudian pergi ke kota Mu’askar, dan akhirnya sampai ke negara Bagdad. Ia mengikuti jejaknya Al-Baqilany dan Al-Asy’ary dalam menjujung setinggi-tingginya akal-fikiran, suatu hal yang menjadikan marahnya para ahli-ahli hadist.

  • Al-Ghazali ( 450-505 H )

Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Dilahirkan di kota Tus, sebuah kota di negeri Khurasan. Gurunya antara lain Al-Juwaini, sedang jabatan yang pernah dipegagnya adalah mengajar di sekolah Nizamiyah Bagdad.

Al-Ghazali adlah salah seorang ahli fikir Islam terkenal dan yang paling besar pengaruhnya. Kegiatan ilmiyahnya meliputi berbagai lapangan, antara lain logika, jadal ( ilmu berdebat ), fiqh dan ushulnya, ilmu kalam, filsafat dan tasawuf. Kitab-kitab yang dikarangnya banyak sekali, berbahasa Arab dan Persi.

Kedudukan Al-Ghazali dalam aliran Asy’ariyyah sangat penting, karena ia telah meninjau semua persoalan yang pernah ada dan memberikan pendapat-pendapatnya yang hingga kini masih dipegangi Ulam-ulama Islam, yang karenanya ia mendapatkan julukan “Hujjatul Islam”.

  • As-Sanusy ( 833-895 H / 1427-1490 )

Nama lengkapnya Abu Abdillah bin Muhammad bin Yusuf. Dilahirkan di Tilasam, sebuah kota di Al-Jazair. Ia belajar pada ayahnya sendiri dan orang-orang lain terkemuka di negaarnya, kemudian ia melanjutkan pelajaranya di kota Al-Jazair pada seorang alim yang bernama Abd. Rahman ats-Tsa’laby.

Ulama Maghrib menganggap ia sebagai pembangun Islam, karena jasa dan karyanya yang banyak dalam lapangan kepercayaan (aqa’id) dan ketuhanan (ilmu Tauhid).

C. Alur Pemikiran Teologi Asya`riyah mencakup permasalahan kalam

1. Tentang sifat Tuhan

Asy’ary berpendapat bahwa Tuhan itu memiliki sifat-sifat tertentu. Tuhan mengetahui dengan sifat Ilmu-Nya, bukan dengan zat-Nya, begitu juga Tuhan berkuasa dengan sifat Qudrah-Nya, bukan dengan zat-Nya.

2. Tentang perbuatan manusia

Menurut Asy’ary semua yang dikerjakan manusia itu tidak semata-mata diwujudkan oleh manusia itu sendiri, melainkan ada peran Tuhan dalam menentukan perbuatan manusia.

3. Tentang Al-qur’an

Pandangan Asy’ariyah mengatakan bahwa Al-qur’an itu adalah Kalam Allah Yang Qadim yang berarti bukan makhluq.

4. Tentang Kewajiban Tuhan

Pandangan Asy’ariyah mengatakan bahwa Tuhan tidak memilii kewajiban-kewajiban tertentu, pandangan ini bertentangan dengan Mu’tazilah dan Maturidiyah yang beranggapan bahwa Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu.

5. Tentang Pelaku Dosa Besar

Asy’aryah mengatakan bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar tidak menjadi kafir dan tidak gugur ke-islamannya.

6. Tentang Janji Tuhan

Asy’aryah sepakat bahwa Tuhan akan melaksanakan janji-Nya. Seperti memberikan pahala kepada yang berbuat baik dan memberi siksa kepada yang berbuat jahat.

7. Tentang Wujud Tuhan

Asy’aryah berpendapat bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang mengandung informasi tentang bentuk-bentuk pisik jasmani Tuhan harus dita’wil dan diberi arti majaz dan tidak diartikan secara harfiyah.

Demikianlah teologi alur pemikiran dan pemahaman Asy’ariyah dalam beberapa masalah kalam.

Al Maturudiah

a. riwayat hidup

Nama aliran ini diambil dari nama pendirinya, yaitu Abu Mansur Muhammad bin Muhammad, kelahiran Matured, kota kecil di daerah Samarkand kurang lebih abad pertengahan hijrah dan ia meninggal di kota Samarkand pada tahun 333 H.

Ia hidup sezaman dengan Abu Hasan al Asy’ari, tapi di tempat yang berbeda. Al Asy’ri di Basrah sedangkan al Maturidi di Samarkand, latar belakang mazhab yang dianut keduanya juga tidak sama. Al asy’ari adalah penganut mazhab Syafi’i, sedangkan al maturidi penganut mazhab Hanafi, sehingga pemikiran theology al Maturidi lebih rasional ketimbang al Asy’ari. Pemikiran al Maturidi lebih cenderung mendekati pemikiran Mu’tazilah, sementara pemikiran Asy’ari lebih dekat kepada Jabariyah.

Pada dasarnya timbulnya pemikiran teologi al Maturidi sebagaiman juga al Asy’ari, merupakan reaksi terhadap paham Mu’tazilah. Sungguhpun demikian, antara keduanya tidak selalu memiliki pendapat yang sama. Ada yang sama, dan banyak pula yang berbeda.

b. Pemikirannya

1) Sifat-Sifat Tuhan

Mauridi dalam memahami sifat-sifat tuhan, hamper bersamaan dengan al asy’ari, di mana keduanya sependapat, bahwa tuhan mempunyai sifat-sifat, seperti sama’, basyar dan sebagainya. Sekalipun begitu, pengertian al maturidi berbeda dengan Asy’ari. Asy’ari memehami sifat Tuhan sebagai sesuatu yang bukan zat, melainkan melekat pada zat itu sendiri. Sedangkan al Maturidi memahami sifat-sifat Tuhan itu tidak dikatakan sebagaia esensiNya dan bukann pula dari esensiNya. Sifat Tuhan itu bersifat mulzamah ( suatu kepastian ) bersama zat tanpa terpisah.

Dengan pemahaman maturidi tentang makna sifat Tuhan ini, cenderung mendekati faham Mu’tazilah. Perbedaannya hanya terletak pada pengakuan Maturidi tentang sifat-sifat Tuhan, sedangkan Mu’tazilah menolak adanya sifat-sifat yang berada di luar zatNya. Mu’tazilah memahami antara zat dan sifat Tuhan adalah dalam kesatuan.

2) Iman dan Kafir

Pada umumnya konsep iman dan kufur Maturidiah Samarkand mirip dengan konsep Mu’tazilah dan konsep Maturidiah Bukhara sama dengan Asy’ariah. Golongan Samarkand yang diwakili oleh Maturidi mengartikan imin sebagai mengetahui Tuhan dalam ketuhanannya atau ma’riffat kepada Allah dengan segala sifat-sifatnya.

Golongan Bukhara yang diwakili oleh Bazdawi mengartikan iman dengan imin dan tasdik dan ikrar. Maturidiah pada umumnya mengakui bahwa iman dapat bertambah dan berkurang, akan tetapi yang bertambah dan berkurang itu adalah sifatnya, bukan zatnya.

3) Akal dan Wahyu

Golongan Maturidiah Samarkand berpendapat akal dapat mengetahui adanya Tuhan dan yang baik dan yang buruk. Tetapi akal tidak dapat mengetahui kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk. Untuk hal yang terakhir ini hanya dapat diketahui dengan wahyu. Karena itu, wahyu sangat diperlukan untuk menjelaskannya.

Golongan Maturidiah Bukhara lain lagi. Menurut mereka, akal dapat mengetahui adanya Tuhan dan yang baik dan yang buruk. Tetapi akal tidak dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan dan kewajiban berbuat baik dan meninggalkan yang buruk. Untuk mengetahui itu diperlukan wahyu. Dalam kaitan ini akal harus mendapat bimbingan dari wahyu.

4) Pelaku Dosa Besar

Al Maturidi berpendapat bahwa Muslim yang melakukan dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula berada pada al manzilah bainal manzilatain seperti pendapat Mu’tazilah.

5) Perbuatan Tuhan dan Perbuatan Manusia

a) Perbuatan Tuhan

Persoalan yang timbul ketika meneliti pebuatan Tuhan senangtiasa diawali pertanyaan, apakah perbuatan Tuhan mencakup hal-hal yang buruk? Atau apakah Tuhah memeiliki kewajiban-kewajiban untuk lepentingan manusia?

Aliran Maturidiah memberi batasan terhadap kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Mereka menerima paham adanya kewajiban menepati janji tentang pemberian pahala dan hukuman serta serta kewajiban mengirim para Rasul. Adapun kewajiban Tuhan melakukan hal yang baik dan terbaik, al Maturidi tidak secara tegas menyatakan wajib. Ia hanya menyatakan bahwa semua perbuatan Tuhan berdasarkan hikmat kebijaksanaan.

b) Perbuatan Manusia

Al Maturidi berpendapat, perbuatan manusia sebanarnya diwujudkan oleh manusia itu sendiri, sekalipun kemauan atau kehendak untuk berbuat itu merupakan kehendak Tuhan, tapi perbuatan itu bukanlah perbuatan Tuhan. Dalam hal ini maturidi sependapat dengan al Maturidi.

6) Kehendak Mutlak dan Keadilan Tuhan

Menurut al Maturidiah kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan tidak sebebas yang diberikan Mu’tazilah. Baginya, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan itu hanya dibatasi oleh kebebasan manusia yang diberikan tuhan. Tuhan sebenarnya mampu membuat semua manusia yang ada di bumi ini menjadi beriman, namun Allah tidak melakukan hal tersebut. Alasannya, karena kebebasan berkehendak dan berbuat yang diberikanNya kepada manusia.

Dalam masalah keadilan Tuhan maturidi hamper sependapat dengan Mu’tazilah, mereka menggaris bawahi makna keadilan Tuhan sebagai lawan dari perbuatan zalim Tuhan terhadap manusia. Tuhan tidak akan membalas kejahatan, kecuali dengan balasan yang setimpal.

7) Takdir dan Kebebasan Manusia

Hal ini Maturidi golongan Bukhara sependapat dengan al Asy’ari sedangkan golongan Samarkan sependapat dengan Mu’tazilah.

Perihal satriatheknight
I'm an ordinary people that try to share his idea to others. An ordinary student that hate the lesson. Um, I'm not talk too much.. I love my friends, my families. Um, i like read manga, watching anime. Um.. that's for now.. Anyway, thanks And happy reading.. >.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: