Pengertian Gap

By: Supian Sauri & M Satria Maipadly

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Gap Management merupakan salah satu bagian yang penting dalam ALMA. Gap Management adalah strategi untuk memaksimalkan net income margin (NIM) melalui siklus margin/bagi hasil. Strategi ini pada dasarnya meliputi komponen-komponen yang variable dan yang fixed sesuai dengan fase dan siklus margin/bagi hasil untuk mencapai profitabilitas yang optimal.

Terjadinya  risiko atau diraihnya keuntungan dikaitkan langsung dengan terjadinya perubahanperubahan dinamis tingkat margin/bagi hasil. Keuntungan diperoleh jika bank berhasil meraih kinerja dan kondisi keuangan yang bagus, sehingga menghasilkan tingkat profitabilitas yang tinggi. Sedangkan risiko yang dihadapi bank terjadi bila kurang berhati-hati, bank mengalami kondisi yang buruk sehingga menghadapi kemungkinan insolvensy.

Equity atau net aset merupakan selisih antara asets dan liabilities. Apabila harga pasar dari asets dan liabilities berubah, perubahan itu dapat memengaruhi besaran modal. Bank dapat terlindung dari risiko tersebut bila dapat dicapai kombinasi dan komposisi yang paling tepat sesuai fluktuasi yang terjadi pada tingkat margin/bagi hasil antara asets dan liablities yang dalam perbankan konvensional dikenal dengan rate sensitive asets (RSA) dan rate sensitive liabilities (RSL).

Meskipun pada bank syariah tidak menetapkan rate, tetapi margin atau bagi hasil yang ditetapkan akan memperhatikan pricing di pasar yang akan berpengaruh terhadap tingkat margin atau nisbah yang ditetapkan.

  1. B.     Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, kami mencoba merumuskan beberapa permasalahan yang ingin dijelaskan, diantaranya :

  1. Apa pengertian dari Gap Manajemen ?
  2. Bagaimana pengukuran Gap Manajemen ?
  3. Bagaimana strategi Gap Manajemen dan pengaruh strategi Gap terhadap pendapatan ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

MANAJEMEN GAP (MISMATCH)

 

  1. A.    Pergertian Manajemen GAP (MISMATCH)

Gap adalah perbedaan (mismatch) antara Rate Sensitive Assets (RSA) dan Rate Sensitive Liabilities (RSL).[1]

  1. RSA adh aktiva dapat berubah setelah :
    1. Tanggal jatuh waktu aktiva yang bersangkutan , contoh : surat-surat berharga dan pinjaman yang tingkat bagi hasil tertentu/tetap, seperti sukuk ijarah.
    2. Tangal jatuh waktu peninjaun bagi hasilnya (re-pricing date), contoh: surat-surat berharga yang tingkat bagi hasil yang mengambang.
    3. RSL adalah pasiva yang imbal hasilnya dapat berubah setelah :
      1. Tanggal jatuh waktu pasivanya yang bersangkutan, contoh: deposito berjangka
      2. Tanggal tertentu sesuai perjanjian, contoh dana yang interestnya dikaitkan dengn SIBOR/LIBOR.
      3. Tanggal tertentu sesuai keinginan bank, contoh jasa giro.
    4. Gap = RSA-RSL

Positif Gap terjadi apabila RSA lebih banyak dari RSL dalam suatu periode tertentu , sebaliknya negatif gap apabila RSA dan RSL tidak dikelola dengan baik , maka dapat mengakibatkan turunya pendapatan bank (Net Interst Income). Oleh karena itu, manajemen gap mengusahakan peraturan struktur RSA dan RSL berdasarkan jatuh waktu bagi hasilnya dengan tujuan:[2]

  1. Menghindari kerugian dari gejolak tingkat bagi hasil yang berlaku di pasar.
  2. Mengusahakan pendapatan dalam batas risiko tertentu.
  3. Menunjang kebutuhan manajemen likuiditas.

Manajemen GAP adalah upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (GAP) antara asset dan liabilities pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam hal jumlah dana, suku bunga, saat jatuh tempo (maturity) atau perpaduan antara ketiganya (kesenjangan tercampur atau mix match). Atau dengan kata lain menejemen GAP adalah upaya untuk mengatasi perbedaan (mismatch) antara asset sensitif terhadap bunga (Rate Sensitive Assets /RSA) dan pasiva yang sensitive terhadap bunga (Rate Sensitive Liabilities/RSL).[3]

Dalam neraca bank hampir selalu terjadi ketidakseimbagan antara sumber daya di sisi liabilities dengan penggunaan dana di sisi asset. Manajemen GAP bertujuan untuk :[4]

  • Menghindari kerugian akibat dari gejolak tingkat bunga.
  • Mengusahakan pendapatan yang maksimal dalam batas risiko tertentu.
  • Menunjang kebutuhan manajemen likuiditas.
  • Mengelola risiko serendah mungkin.
  • Menyusun struktur neraca yang dapat meningkatkan kinerja dengan tingka suku bunga yang wajar.
  1. B.     Pengukuran GAP

Pengukuran besarnya gap antara sisi aktiva dengan sisi pasiva diukur dengan menggunakan Interest maturity ladder, yaitu berupa suatu tabel yang disusun dari aset dan liabilities yang dikelompokkan menurut periode peninjauan bunganya. Besarnya gap akan menentukan besarnya potensi keuntungan atau kerugian yang akan timbul dari perubahan tingkat bunga tersebut. Besarnya gap dapat berubah membesar atau mengecil karena transaksi-transaksi yang dilakukan.[5]

Contoh :

(dalam ribuan)

PROFIT PERIOD

ASSET

LIABILITIES

GAP

KUMULATIF

s.d 1 minggu

10.000

8.000

2.000

2.000

8-30 hari

6.500

9.000

(2.500)

(500)

1-3 bulan

7.000

5.000

2.000

1.500

3-6  bulan

12.000

10.500

1.500

3.000

6-12 bulan

8.500

9.500

(1.000)

2.000

12 bulan ke atas

8.000

8.000

2.000

Berdasarkan contoh diatas , gap untuk periode s.d 1 minggu positif sebesar 2.000 juta, artinya RSA>RSL pada periode ini. Dalam kondisi tingkat bagi hasil yang diterima bank menurun lebih cepat dari bagi hasil yang diterima bank menurun lebih cepat dari bagi hasil yang diterima pada nasabah, sebaliknya apabila tingkat bagi hasil yang diterima bank meningkat maka bank akan meraih keuntungan karena pendapatan meningkat lebih cepat dari bagian bagi hasil yang diberikan pada nasabah. Dengan demikian, besarnya gap akan menetukan besarnya potensi keuntungan atau kerugian yang akan timbul dari perubahan tingkat bagi hasil tersebut.

Besarnya gap dapat berubah membesar atau mengecil karena transaksi yang dilakukan, misalnya: jika bank menarik dana berupa deposito berjangka 1 tahun kemidian ditanamkan pada pinjaman bagi hasil tetap dengan jangka waktu 30 hari, maka gap untuk periode 6-12 bulan akan berkurang dan gap untuk periode 8 hari-1 bulan akan bertambah.

  1. C.    Strategi Manajemen Gap

Biasanya gap yang akan diambil oleh manajemen bank serta arahnya, apakah positif gap atau negatif gap tergantung pada 3 hal, yaitu:[6]

  1. Prakiraan arah perkembangan tingkat bagi hasil
  2. Tingkat keyakinan manajemen terhadap perkiraan tersebut
  3. Hasrat bank untuk mengambil risiko jika tindakan yang diambil salah.

Di samping tiga hal di atas, dalam menetukan strategi gap perlu diperhatikan pula pengaruh besarnya gap terhadap posisi dan likuiditas bank. Strategi negatif gap yang ditetapkan sebagai antisipasi terhadap turunnya tingkat bagi hasil akan mengurangi likuiditas bank karena jatuh tempo assets akan lebih panjang daripada jatuh tempo liabilitiesnya.

Agar strategi gap suatu bank dapat efektif maka harus di dukung oleh kebijakan pricing yang sesuai dan ada infrastruktur yang dapat memberikan data RSA & RSL dengan cepat, tepat dan kuntinu untuk keperluan analisis. Dengan semakin, profesionalnya bank dalam ALMA, maka pengunaan gap majement software untuk melakukan analisis dan scenario interest rest akan menjadi hal yang umum.

Dengan mengunakan software tersebut maka dapat dengan mudah diperkirakan/diproyeksikan berbagai srtuktuk neraca dan pengaruhnya terhadap pendapatan karena perubahan faktok internal dan eksternal. Selanjutnya dengan proses yang berulang-ulang dan dengan mengubah asumsi-asumsi dan prakiraan, maka dapat ditentukan langkah yang optimal.

Hal yang perlu diingat bahwa penggunaan software tersebut hanya membantu kemampuan ALCO dan stafnya untuk menilai dengan cepat pengaruh berbagai scenario tingkat bunga terhadap strategi gap dan pendapatan akan tetapi tidak dapt memikirkan kebutuhan bank.

Perubahan suku bunga akan menimbulkan dampak yang tidak sedikit terhadap struktur neraca maupun kinerja bank. Oleh karena itu timbul upaya-upaya untuk mengelola Interest rate Management, yaitu suatu kegiatan untuk menata interest rate secara simultan atau bersamaan antara sisi asset maupun sisi liabilities sehingga dapat diperkecil dampak negatif perubahan suku bunga terhadap target pencapaian pendapatan bersih yang stabil dan berkembang.

Hal penting dalam penataan manajemen gap :[7]

  • Jangka waktu
  • Repricing
  • Interest rate
  • Acceleration of Change

Tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki struktur neraca maupun kinerja adalah :[8]

  • Menata kembali komponen-komponen asset dan liabilities yang sensitive terhadap suku bunga.
  • Melakukan analisis risiko gap.
  • Kebijakan besarnya limit gap.

Dalam pelaksanaan pengambilan kebijakan oleh manajemen bank, apakah akan mengambil posisi gap positif atau negatif tergantung pada tiga hal :[9]

  • Perkiraan arah perkembagan tingkat bunga.
  • Tingkat keyakinan manajemen terhadap prakiraan tersebut.
  • Keberanian bank untuk mengambil risiko jika tindakan yang diambil keliru.

Agar strategi gap pada suatu bank dapat efektif harus didukung oleh kibijakan pricing yang yang sesuai dan adanya infrastruktur yang dapat memberikan data RSA dan RSL dengan cepat dan kontinyu untuk keperluan analisis.

Adapun Strategi Gap Management pada ALMA Syariah meliputi:[10]

  1. Upaya untuk mencapai positive gap, bila diketahui bahwa tingkat margin/bagi hasil cenderung meningkat, karena aset yang di–reprice lebih besar dari liabilitiy nya. Sehingga Net Income Margin akan bertambah seiring dengan lebih cepatnya perkembangan pendapatan margin/bagi hasil daripada perkembangan biaya bagi hasil.
  2. Upaya untuk mencapai negative gap, bila diketahui bahwa tingkat margin/bagi hasil cenderung menurun, karena liability yang di–reprice lebih besar dari aset-nya. Akibatnya Net Income Margin akan bertambah karena biaya bagi hasil turun lebih cepat dari pendapatan margin/bagi hasil.
  3. Apabila tingkat margin/bagi hasil berfluktuasi tanpa dapat diprediksi dengan tepat pergerakannya, strategi yang paling aman adalah dengan memperkecil gap tersebut, bila mungkin berupaya mencapai zero gap.
  4. Strategi mana pun yang diterapkan, tujuan gap management tersebut adalah agar dapat mengelola risiko perubahan tingkat margin/bagi hasil dalam hubungannya dengan mismatch untuk tujuan repricing structure pada kedua sisi neraca (asets dan liabilities) untuk mengoptimalkan net income margin.
  5. Pada akhirnya dalam mengoptimalkan keuntungan, bank lebih banyak tergantung pada kemampuan dalam menyalurkan dana dan memelihara kualitas asets yang menentukan kemampuan bank dalam meningkatkan daya tariknya kepada nasabah untuk menginvestasikan dananya melalui UUS/bank syariah yang berarti akan dapat meningkatkan profitabilitasnya.
  6. Hal ini sangat penting karena besaran bagi hasil yang akan diterima nasabah sangat tergantung pada pendapatan margin maupun pendapatan bagi hasil yang diperoleh dari hasil operasional UUS/Bank yang bersangkutan.
  7. D.    Pengaruh Strategi Gap terhadap Pendapatan

Telah diuraikan diatas bahwa besarnya gap akan menentukan besarnya potensi keuntungan atau kerugian karana perubahan tingkat bagi hasil. Oleh karena itu, dalam menentukan strategi gap senantiasa dipertimbangkan risiko yang akan dihadapi yakni dengan menetapkan target/limit risiko sampai pada tingkat tertentu yang dapat diterima.[11]

Dalam menentukan strategi gap senantiasa dipertimbagkan risiko yang akan dihadapi yakni dengan menetapkan target/ limit risiko sampai pada tingkat tertentu yang dapat diterima.

BAB III

PENUTUP

  • Kesempulan

Gap Management merupakan salah satu bagian yang penting dalam ALMA. Manajemen GAP adalah upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (GAP) antara asset dan liabilities pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam hal jumlah dana, suku bunga, saat jatuh tempo (maturity) atau perpaduan antara ketiganya (kesenjangan tercampur atau mix match). Atau dengan kata lain menejemen GAP adalah upaya untuk mengatasi perbedaan (mismatch) antara asset sensitif terhadap bunga (Rate Sensitive Assets /RSA) dan pasiva yang sensitive terhadap bunga (Rate Sensitive Liabilities/RSL).

Pengukuran besarnya gap antara sisi aktiva dengan sisi pasiva diukur dengan menggunakan Interest maturity ladder, yaitu berupa suatu tabel yang disusun dari aset dan liabilities yang dikelompokkan menurut periode peninjauan bunganya. Besarnya gap akan menentukan besarnya potensi keuntungan atau kerugian yang akan timbul dari perubahan tingkat bunga tersebut.

gap yang akan diambil oleh manajemen bank serta arahnya, apakah positif gap atau negatif gap tergantung pada 3 hal, yaitu:

  1. Prakiraan arah perkembangan tingkat bagi hasil
  2. Tingkat keyakinan manajemen terhadap perkiraan tersebut
  3. Hasrat bank untuk mengambil risiko jika tindakan yang diambil salah

[1] Arviyan Arifin, Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan Aplikasi, ( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), hal. 563.

[2] Ibid, hal. 564.

[3] http//www.google.com.  Dunia Manajemen: Manajemen Aset dan Liabilitas (ALMA). 1 Maret   2011.

[4] Arviyan Arifin, Op. Cit, hal. 565.

[5] Arviyan Arifin, dkk, Bank dan Finansial Institusion Management, ( Jakarta: PT RajaGrafindo, 2007 ), hal. 365.

[6] Ibid, hal. 366.

[7] http//www.google.com.  Dunia Manajemen: Manajemen Aset dan Liabilitas (ALMA). 1 Maret   2011

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10]  http//www.google.com. Strategi Gap Management pada ALMA Syariah « Sharianomics. 1 Maret   2011.

[11]  Arviyan Arifin, Op. Cit, hal. 566.

Perihal satriatheknight
I'm an ordinary people that try to share his idea to others. An ordinary student that hate the lesson. Um, I'm not talk too much.. I love my friends, my families. Um, i like read manga, watching anime. Um.. that's for now.. Anyway, thanks And happy reading.. >.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: